Jumat, 27 November 2009

Waktu Terjadinya Kiamat


Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".

( QS. Al A'raf 7:187 )

Mereka bertanya tentang hari kiamat karena setiap kali Nabi mnejelaskan tentang balasan dan hukuman setiap perbuatan manusia selalu dikaitkan dengan kiamat. Bahkan salah satu pilar keimanan dalam islam adalah percaya akan adanya hari kiamat dan kehidupan sesudahnya di mana setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Nabi dituntut untuk menjelaskan kapan hari kiamat yang disebut-sebut itu. Nabi menjawab berdasarkan wahyu Allah di atas, bahwa hanya Allah yang tahu kapan terjadinya hari kiamat. Tidak satupun manusia bahkan malaikat yang mengetahuinya. Peristiwa kiamat amat menakutkan. Bumi langit dan segala isinya termasuk manusia hancur berkeping-keping dan beterbangan seperti kapas yang hanyut terbawa angin.

"Tidak ada satupun manusia yang mempersiapkan diri menghadapi hari itu, karena datangnya secara tiba-tiba dan serentak di seluruh jagat. Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan???"

(QS Ar Rahman)

Rasulullah sendiri, walaupun Nabi paling dicintai Allah juga tidak diberi tahu Allah kapan terjadinya kiamat. Beliau hanya menjelaskan hari dan tanda-tandanya:

  1. Kiamat akan terjadi pada hari jumat
  2. Tanda-tandanya antara lain:
    1. Adanya orang miskin, tak bersandal, tiba0tiba bisa membangun rumah bertingkat. Mungkin maksudnya adalah banyaknya OKB (Orang Kaya Baru) baik dari hasil halal maupun dari yang haram. Ini merupakan kiamat bagi diri ybs karena kebingungan mengelola kekayaan.
    2. Budak perempuan yang melahirkan tuannya. Mungkin maksudnya adalah adanya orang yang terpandang, bahkan tidak jelas nasabnya kemudian karena kepintaran bermain politik kemudian menjadi orang berkuasa dan semena-mena sampai berlaku tidk baik pada ibunya sendiri.
    3. Kiamat terjadi jika jumlah wanita dibanding pria 50:1

Hampir tiap tahun ada informasi tentang perkiraan waktu terjadinya kiamta. Semua tidak pernah benar. Umat Islam haram mempercayai perkiraan waktu kiamat tersebut berdasarkan ayat Al Quran dan hadits nabi. Apalagi sampai menimbulkan kepanikan. Semakin panik semakin menunjukkan kebodohan yang bersangkutan. Inilah bedanya orang beragama dengan benar dan mengerti ajaran agamanya dengan orang yang hanya beragama tanpa pemahaman yang benar ajaran agamanya.


Tafsir al Azhar IX:190

====hasil pengajian minggu pagi diasuh oleh Prof. Ali Aziz====


-----The Time of the Hour-----

They ask you about the Hour: "When will it happen?" Say: "Verily the knowledge of Reality is on the side of my Lord, no one can explain his arrival time but He. Judgement is very heavy (it riot for the creature) in the heavens and on earth. Judgement will not come to you but with the arrival the blue ". They ask you as if you really know about it. Say: "Verily the knowledge of nautical Hour is with Allah, but most people do not know."

(Surat al-A'raf 7:187)

They asked about the Day of Judgement because every time the Prophet about replies explain and punishment every human action is always associated with the apocalypse. Even one of the pillars of faith in Islam is belief in the Day of Resurrection and the life thereafter in which everyone must be accountable for his actions.

The prophet is required to explain when the Day of Resurrection which is mentioned it. He said based on the revelation of God above, that only God knows when the Day of Resurrection. Not a single human being who knows even angels. Doomsday event is very scary. Earth's sky and everything in it including man shattered and flew like cotton are washed away in the wind.

"None of the men who prepare themselves to face the day, primarily due to the sudden and simultaneous throughout the universe. Which favors of your Lord which you deny?"

(Surah Ar-Rahman)

Prophet himself, although most beloved Prophet of Allah was also not told of God when the Hour. He only talks about the day and the signs:

1. Apocalypse will happen on Friday
2. The signs include:
1. The existence of the poor, do not wear sandals, it suddenly can build-story house. Perhaps the point is the number of new people both from the rich as well as from the haram halal. This is the apocalypse for theirselves because manage wealth
confusion.
2. Slave women who gave birth to her master. Perhaps the point is the presence of a prominent person, did not even clear descendants later because intelligence plays later became the ruling political and arbitrary to apply are not good at his own mother.
3. Doomsday happens if the number of women than men 50:1

Almost every year there is information about the approximate time of occurrence the Hour. All is never true. Muslims are forbidden to believe the estimated time of Resurrection is based on the verses of Al Quran and hadith prophet. Moreover, to cause panic. More and more panic in question shows ignorance. This is the difference between religious people properly and understand the teachings of his religion with people who only a correct understanding of religion without religion.


Tafsir al-Azhar IX: 190


(translated by google :D )

Selasa, 24 November 2009

Makna Idul Qurban

Peristiwa "penyembelihan" Nabi Ibrahim A.S. terhadap Nabi Ismail A.S. harus mampu mengingatkan manusia bahwa yang dikorbankan bukanlah manusia tetapi sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri manusia semacam rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang, dan tidak mengenal hukum dan norma-norma apapun. Sifat-sifat yang demikianlah yang wajib dibunuh, ditiadakan, dan dijadikan qurban (kedekatan) diri kepada Allah SWT. Itu sebabnya Allah menjelaskan dalam QS 22:37 "daging dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapaiNya"

------The Meaning of Idul Adha-------

Events "slaughter" of Prophet Ibrahim to Prophet Ismail should be able to remind people that the sacrifice is not human but animal traits in human beings is a kind of greedy, unbridled ambition, oppress, attack, and did not know the law and norms of any kind. Properties so that must be killed, eliminated, and made qurban (closeness) to Allah SWT. That is why Allah said in Surah 22:37 "flesh and blood can never reach (pleasure) of Allah but the piety that can achieve it"

======semoga manfaat========

Dikutip dari "Lentera Hati-Quraish Shihab"

Sabtu, 19 September 2009

Makna Halal Bihalal

Halal bihalal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah “keagamaan” yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenaranya dalam segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama.

Paling tidak ada dua makna yang dapat dikemukakan menyangkut pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua pandangan. Yaitu, pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam dan kedua berpijak pada arti kebahasaan.

Menurut pandangan pertama – dari segi hukum – kata halal biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa, demikian kata para pakar hukum. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. Jika demikian halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf.

Pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada hakikatnya belum menunjang tujuan keharmonisan hubungan, karena dalam bagian halal terdapat sesuatu yang makruh atau yang tidak disenangi dan sebaiknya tidak dikerjakan. Pemutusan hubungan (suami-istri, misalnya) merupakan sesuatu yang halal tapi paling dibenci Tuhan. Atas dasar itu, ada baiknya makna halal bihalal tidak dikaitkan dengan pengertian hukum.

Menurut pandangan kedua – dari segi bahasa – akar kata halal yang kemudian membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti yang beraneka ragam, sesuai dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya. Makna-makna yang diciptakan oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain, berarti “menyelesaikan problem”, “meluruskan benang kusut”, “melepaskan ikatan”, dan “mencairkan yang beku”.

Jika demikian, ber-halal bihalal merupakan suatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikata yang membelenggi, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghalang terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi hubungan yang dingin, keruh, dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram. Ia menjadi begitu karena Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau ada sikap adil yang Anda ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul keretakan hubungandari kesalahpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang tidak disengaja. Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum, namun perlu diselesaikan secara baik; yang berku dihangantkan, yang kusut diluruskan, dan yang mengikat dilepaskan.

Itulah makna serta substansi halal bihalal, atau jika istilah tersebut enggan Anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan hakikat Idul Fitri, sehungga semakin banyak dan seringnya Anda mengulurkan tangan dan melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang Anda obati dengan memaafkan, maka semakin dalam pula penghayatan dan pengamalan Anda terhadap hakikat halal bihalal. Bentuknya memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.

---------The Meaning of Halal Bihalal----------

Halal bihalal, two words are often spoken in an atmosphere of Eid al-Fitr, is one of the terms "religious" who is only known by Indonesian. The term is often raises questions about its meaning, even they were correct in terms of language, although all parties to realize the goal is to create harmony between each other.

There are at least two meanings that can be raised concerning the meaning of the term, which is seen from two views. That is, the first, the starting point of view of Islamic law and the second rests on the meaning of language.

According to the first view - from a legal perspective - the word halal is usually confronted with forbidden words. Haram is something that is forbidden so that the violation resulted in sin and invite punishment, according to legal experts. While halal is something that is permissible and does not invite sin. If so lawful gatherings is to make our attitude towards others who had been unlawful and result of sin, become lawful by the way sorry.

The definition of the kind described above are essentially not support the purpose harmonious relationship, because in part there is something makruh kosher or unfavorable and should not be done. Termination of relationship (husband-wife, for example) is something that is kosher but most hateful to God. On that basis, it's good halal meaning bihalal not associated with understanding the law.

According to the second view - in terms of language - the root of the word kosher which then form a variety of word formation, has diverse meanings, in accordance with the form and range of the next word. Meanings that are created by these formations, among other things, means "to solve problems," "straighten out the tangled threads", "untie", and "melt the frozen".

If so, were lawful gatherings is a form of activity that bring the perpetrators to straighten out the tangled threads, warm relationship that had been frozen so that the liquid again, releasing the membelenggi ikata, and resolve difficulties and problems that prevent establishment of harmonious relations. It may be a relationship that cold, cloudy, and not wrinkle posed by the illicit nature. He became so long did not visit because you are to someone, or there is a fair attitude that you take but it hurts other people, or cracks hubungandari misunderstandings arise due to speech and eye glances unintentional. All of this, not unlawful in the eyes of the law, but need to be resolved properly;
the frozen warmed, the tangled straightened, and the binding released.

That is the meaning and substance bihalal halal, or if you use that term reluctantly, say that it is the essence of Eid ul-Fitr, sehungga more and more and often you reach down and clear the chest, and the more severe liver injury that you treat with forgiveness, the more the same appreciation and practice of halal bihalal you against nature. Shape is typical Indonesian, but the essence is the essence of Islamic teachings.


==============================
Reference:

Lentera Hati
Prof. Dr. Quraish Shihab

Jumat, 13 Maret 2009

what’s love

If you love some one because
You think that he or she is really gorgeous…
Then it’s not love..
It’s - INFATUATION. . .

If you love some one because
You think that you shouldn’t leave him because
Others think that you shouldn’t …
Then it’s not love..
It’s - COMPROMISE. . .

If you love some one because
You think that you cannot live with out his touch ….
Then it’s not love ..
It’s - LUST. . .

If you love some one because
You have been kissed by him …
Then it’s not love..
It’s - INFERIORITY COMPLEX. . .

If you love some one because
You cannot leave him thinking that it would hurt his feelings ..
Then it’s not love ..
It’s - CHARITY. . .

If you love some one because
You share every thing with him …
Then it’s not love..
It’s - FRIENDSHIP. . .

But if you feel the pain of the other person
More than him even when he is stable
and you cry for him ..
That’s - LOVE